Sabtu, 21 April 2012

Bondowoso ku

Berawal dari seorang anak yang bernama Raden Bagus Assra, ia adalah anak Demang Walikromo pada masa pemerintahan Panembahan di bawah Adikoro IV, menantu Tjakraningkat Bangkalan, sedangkan Demang Walikoromo tak lain adalah putra Adikoro IV. Tahun 1743 terjadilah pemberontakan Ke Lesap terhadap Pangeran Tjakraningrat karena dia diakui sebagai anak selir. pertempuran yang terjadi di desa Bulangan itu menewaskan Adikoro IV, Tahun 1750 pemberontakan dapat dipadamkan dengan tewasnya Ke Lesap. Terjadi pemulihan kekuasaan dengan diangkatnya anak Adikoro IV, yaitu RTA Tjokroningrat. Tak berapa lama terjadi perebutan kekuasaan dan pemerintahan dialihkan pada Tjokroningrat I anak Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh dengan R. Bilat sebagi patihnya. Khawatir dengan keselamatan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa lari cucunya mengikuti eksodus besar-besaran eks pengikut Adikoro IV ke Besuki. Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di tampung serta dididik ilmu bela diri dan ilmu agama..Usia 17 tahun beliau diangkat sebagai Mentri Anom dengan nama Abhiseka Mas Astruno dan tahun 1789 ditugaskan memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan, sebelumnya beliau telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo.
Tahun 1794 dalam usaha memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis untuk kemudian disebut Bondowoso dengan diangkatnya beliau sebagi Demang di daerah yang baru dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno. Demikianlah dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada tanggal 17 Agustus 1819 atau hari selasa kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo sebagai orang kuat yang memperoleh kepercayaan
Gubernur Hindia Belanda, dalam rangka memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat R. Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar M. NG. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, ditandai penyerahan Tombak Tunggul Wulung. .Masa Beliau memerintah adalah tahun 1819 – 1830 yang meliputi wilayah Bondowoso dan Jember.
Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso.

Makna Lambang Daerah


Lambang Daerah Bondowoso terbagi atas :
  • Perisai, melambangkan kesatuan pertahanan dari rakyat daerah , warna kuning emas melambangkan keluhuran budi.
  • Pohon beringin , melambangkan suatu pemeritahan yang senantiasa berusaha meberikan pengayoman kepada rakyat.
  • Atas Kepala Kereta Api (lokomotif ) mengepul dalam bentuk garis-garis hitam yang mewujudkan dua sapi beradu muka menunjukkan kebudayaan khusus serta kegemaran rakyat Bondowoso akan aduan sapi.
  • Kepala kerbau putih berbentuk dangkal melambangkan kerbau yang menunjukkan letak kota sewaktu pembabatan kota Bondowoso.
  • Kepala Kereta api ( Lokomotif ) melambangkan keberanian perjuangan rakyat Bondowoso, warna hitan yang tak pernah luntur melambangkan kekuatan serta ketetapan hati.
  • Cemeti , Parang, Tasbih merupakan pegangan Kironggo yang kewibawaannya dicerdaskan atas ketekunan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Jagung, seni karya, padi, daun tembakau, menunjukaknan hasil utama Kabupaten Bondowoso.
  • Tulang daun tembakau membagi daun tembakau sebelah luar menjadi lima bagian , melambangkan dasar Negara Pancasila. Tulang daun tembakau membagi daun tembakau sebelah dalam menjadi empat bagian dan sebelah luar menjadi lima bagian melambangkan Undang-undang Dasar 1945.
  • Gunung dan Air menunjukkan letak geografis daerah yang dikelilingi oleh gunung-gunung dengan pengairan cukup , warna biru melambangkan harapan atas kesuburan daerah .
Sesanti Daerah Kabupaten Bondowoso berbunyi “SWASTI BHUWANA KRTA”
  • Swasti artinya :
    - Selamat, Bahagia lahir dan batin
    - Merdeka
    - Menyatu diri dengan Tuhan untuk mendapatkan kebahagian lahir dan batin/keselamatan dunia akhirat
  • Bhuwana Krta artinya Kemakmuran dunia / kesempurnaan dunia
  • Swasti Bhuwana Krta artinya barang siapa di dunia melakukan amal perbuatan yang baik dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa akan mendapatkan kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat

Visi dan Misi

I. PENDAHULUAN
Kabupaten Bondowoso secara geografis terletak antara 113.48’10″ – 113.48’26″ BT dan antara 7.50’10″ – 7.56’41″ LS, yakni di wilayah bagian timur Propinsi Jawa T
imur dengan jarak sekitar 200 km dari ibu kota Propinsi (Surabaya). Luas wilayah Kabupaten Bondowoso mencapai 1.560,10 km2 atau sekitar 3,26 persen dari total luas Propinsi Jawa Timur, dan terbagi menjadi 23 kecamatan, 10 kelurahan, 119 desa dan 913 dusun. Batas-batas wilayah pada Kabupaten Bondowoso adalah sebagai berikut :
  • Sebelah utara : Kabupaten Situbondo
  • Sebelah selatan : Kabupaten Jember
  • Sebelah timur : Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi
  • Sebelah barat : Kabupaten Situbondo dan Probolinggo
Wilayah Kabupaten Bondowoso tidak mempunyai laut dan tidak dilalui jalur utama. Jalan terbesar hanya dilalui oleh jalan propinsi antara Bondowoso – Situbondo dan Bondowoso – Jember.
Secara topografi, wilayah Kabupaten Bondowoso adalah berbukit-bukit bahkan sebagian besar adalah wilayah berlereng sangat curam (40,94%). Kondisi daratannya terdiri dari perbukitan seluas 44,4%, dataran tinggi 24,9% dan dataran rendah 30,7% dari total luas wilayah.
Secara klimatologi, wilayah Kabupaten Bondowoso yang merupakan bagian dari Pulau Jawa tepatnya pada Provinsi Jawa Timur berada relatif dekat dengan garis khatulistiwa yang secara langsung mempengaruhi perubahan iklim yaitu musim kemarau dan musim hujan, dengan temperatur rata-rata 22,52.. Pada saat musim hujan, Kabupaten Bondowoso merupakan kawasan rawan bencana banjir karena merupakan kawasan bersudut lereng lebih dari 40%.
Jumlah penduduk Kabupaten Bondowoso berjumlah 725.571 jiwa terdiri dari laki-laki 354.425 jiwa dan perempuan 371.146 jiwa. Jumlah ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kepadatan penduduk sebesar 454 jiwa/km2. Di antara 23 kecamatan di Kabupaten Bondowoso, kecamatan Bondowoso merupakan daerah yang paling padat, yaitu mencapai 68.356 jiwa dengan kepadatan penduduk 3.191 jiwa/km2,
Sebagian besar masyarakat Bondowoso mempunyai matapencaharian sebagai petani atau bahkan sebagai buruh tani. Dengan pendapatan perkapita masyarakat sebesar Rp 4.075.826,00, distribusi pendapatan merata pada tingkat pendapatan rendah. Kemampuan keuangan daerah juga tergolong sangat rendah. Proyeksi Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada tahun 2008 hanya sebesar Rp 31,063 Milyar. Sementara proyeksi jumlah Belanja Daerah mencapai Rp 611,918 Milyar. Rasio APBD perkapita hanya sebesar Rp 843.361,- Itu pun sebagain terbesar dari jumlah tersebut adalah untuk pos Belanja Pegawai (sekitar 61%). Sedangkan Belanja Modal hanya sebesar Rp 67,615 Milyar (11%). Ketergantungan kepada transfer dana dari Pemerintah Pusat berupa Dana Perimbangan juga masih sangat tinggi, yakni mencapai Rp 518,238 Milyar.
Sebagai salah satu kabupaten yang termasuk kategori “daerah tertinggal”, Kabupaten Bondowoso dihadapkan kepada berbagai masalah yang perlu segera ditangani secara serius, terencana dan berkelanjutan. Issu kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, rendahnya derajat kesehatan, tingginya angka pengangguran, serta rendahnya produktifitas dan kualitas produksi, merupakan masalah-masalah yang perlu memperoleh perhatian segera.
Berdasarkan hasil survey keluarga miskin tahun 2005 (PKIB), jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bondowoso sebanyak 246.357 jiwa atau 34,20% dari jumlah penduduk. Demikian pula rumah tangga miskin, menurut data pada tahun 2005 sebanyak 88.291 KK atau 35,09%. Artinya tingkat kesejahteraan masyarakat Bondowoso masih rendah.
Kondisi pendidikan di Kabupaten Bondowoso rata-rata masih memprihatinkan dan berada di bawah Standar Pelayanan Minimal (SPM) Departemen Pendidikan Nasional. Masih rendahnya angkat rata-rata lama bersekolah, sangat minimnya jumlah tenaga pendidik, jumlah penduduk penyandang buta aksara, adalah sebagian kecil contoh masalah di bidang ini.
Di bidang kesehatan, masih dihadapkan dengan masalah rendahnya angka harapan hidup (AHH) yaitu 59 tahun, lebih rendah dari kabupaten sekitar dan jauh di bawah AHH Propinsi Jawa Timur yaitu 66 tahun. Kenyataan tersebut diatas memberikan gambaran bahwa kualitas hidup masyarakat Bondowoso masih rendah. Hal ini disebabkan oleh masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki, disamping itu juga disebabkan karena masih lemahnya system pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat sulit mendapatkan informasi.
Kondisi tenaga kerja juga masih memprihatinkan. Menurut data tahun 2005, penduduk usia kerja sebanyak 532.343 orang terdiri dari angkatan kerja 358.630 orang dan bukan angkatan kerja 173.713 orang. Dari jumlah angkatan kerja tersebut, masih terdapat sejumlah 142.668 orang (22,82%) merupakan pengangguran.
Sedangkan produksi dan produktifitas hasil pertanian khususnya padi yang merupakan penyumbang PDRB terbesar, berdasarkan data yang ada, cenderung menurun dari tahun ke tahun.
Bertitik tolak dari kondisi masyarakat Bondowoso tersebut di atas, maka sangat diperlukan langkah-langkah kebijakan yang tepat dengan mengoptimalisasikan potensi yang dimiliki Kabupaten Bondowoso maupun dengan membuka keterisolasian agar dapat menarik berbagai sumberdaya dari luar Kabupaten Bondowoso. Berbagai potensi yang dapat dioptimalkan dimaksud antara lain: pertanian tanaman pangan dan holtikultura, perikanan air tawar, peternakan, perkebunan, kehutanan, pertambangan, industri, serta pariwisata alam dan peninggalan sejarah.
II. VISI PEMBANGUNAN BONDOWOSO
Visi adalah konsepsi ideal dan pandangan jauh ke depan yang menggambarkan secara singkat ke mana dan bagaimana pemerintahan yang akan dibangun bersama dengan masyarakat Bondowoso menuju kondisi yang diinginkan.
Bertolak dari pemahaman dari kondisi obyektif, permasalahan yang dihadapi dan memperhatikan peluang dan potensi yang dimiliki Kabupaten Bondowoso, maka visi saya dalam pembangunan Kabupaten Bondowoso adalah:
“TERWUJUDNYA MASYARAKAT BONDOWOSO YANG BERIMAN, BERDAYA DAN BERMARTABAT”
Visi tersebut mengandung makna sebagai berikut :
  1. Terwujudnya; terkandung makna upaya dan peran Pemerintah Daerah dalam mengupayakan terwujudnya masyarakat Kabupaten Bondowoso yang beriman, berdaya dan bermartabat.
  2. Masyarakat Bondowoso; seluruh penduduk yang bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Bondowoso;
  3. Beriman; adalah kondisi masyarakat Bondowoso yang secara khidmat dapat menjalankan ajaran agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing individu serta hubungan yang harmonis dan toleran antar umat beragama;
  4. Berdaya; kondisi masyarakat Bondowoso yang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, serta memiliki keunggulan-keunggulan sehingga mampu untuk bersaing dalam segala bidang.
  5. Bermartabat; kondisi masyarakat Bondowoso yang memiliki derajat kehidupan yang tinggi dengan keunggulan kualitas sumberdaya manusianya, serta kualitas kehidupan sosial masyarakatnya yang beradab.
III. MISI PEMBANGUNAN BONDOWOSO
Misi adalah rumusan secara umum yang mengandung langkah-langkah untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan. Perumusan misi bagi pembangunan Bondowoso adalah sebagai berikut :
  1. Peningkatan kualitas kehidupan keagamaan melalui peningkatan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari
  2. Peningkatan kemampuan ekonomi masyarkat melalui pemberdayaan ekonomi rakyat dan revitalisasi sektor pertanian, perkebunan, kehutanan dan peternakan serta sektor jasa.
  3. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan,pelatihan keterampilan serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat .
  4. Peningkatan kualitas tata kepemerintahan yang baik dan peningkatan pelayanan publik prima.
  5. Peningkatan kualitas demokrasi dan penegakan hukum melalui peningkatan kesadaran hukum masyarakat dan supremasi hukum.
IV. PROGRAM PEMBANGUNAN BONDOWOSO
Prioritas Pembangunan di Kabupaten Bondowoso
Agar setiap program kegiatan pembangunan mendapatkan hasil yang optimal, maka penyusunan skala prioritas perlu dilakukan karena mengingat keterbatasan anggaran, sumber daya manusia, sistem dan aparatur pemerintahan. Berdasarkan misi yang telah ditetapkan maka prioritas pembangunan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
  1. Program peningkatan kualitas kehidupan keagamaan.
    Keimanan merupakan nafas budaya sebagai penyelaras kehidupan masyarakat dan penuntun perilaku individu dalam mewujudkan ketenangan batin, keadilan dan kesejahteraan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan melalui peningkatan kualitas pendidikan keagamaan di setiap jenjang pendidikan mulai dari pra sekolah (PAUD/TK) sampai dengan universitas, pelatihan yang berkualitas bagi guru/dosen dan penyediaan sarana prasarana pada pondok pesantren, Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA), dan lain-lain.
  2. Program peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat. Upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi diarahkan kepada pencipataan daya tahan ekonomi masyarakat Bondowoso sehingga mempunyai daya saing. Hal ini dapat diwujudkan dengan cara :
    • Meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi, baik dalam bidang pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kehutanan melalui program kredit usaha tani, lumbung pangan daerah, diversifikasi pangan, pemberdayaan kelompok tani dan peningkatan kualitas dan peran tenaga penyuluh lapangan.
    • Meningkatkan kemandirian bagi usaha kecil maupun menengah melalui kemitraan dan penyediaan fasilitas untuk mengakses permodalan dengan bunga lunak/ringan, dan memberikan penyuluhan-penyuluhan terkait dengan kemajuan usaha dan lain-lain
    • Menumbuhkan unit-unit usaha jasa mikro, melalui revitalisasi pasar desa, koperasi, usaha kecil dan menengah dengan stimulasi finansial oleh pemerintah kabupaten Bondowoso dan kebijakan yang memihak kearah itu.
    • Memperluas kesempatan kerja dan membuka lapangan kerja baru melalui pemberian pelatihan keterampilan bagi masyarakat.
  3. Program peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan.
    Pendidikan merupakan sebagian dari pelayanan dasar kepada masyarakat yang harus menjadi prioritas pembangunan. Program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada usia produktif untuk dapat mengenyam jenjang pendidikan yang lebih tinggi, antara lain dengan penyediaan akses terhadap pendidikan yang murah dan berkualitas, pemberian beasiswa dan penyediaan sekolah unggulan bagi masyarakat miskin potensial. Selain itu juga peningkatan sarana prasarana belajar siswa seperti gedung sekolah, peralatan sekolah dan perpustakaan, peningkatan kualitas kepala sekolah dan guru melalui pendidikan dan pelatihan berjenjang.
  4. Program peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
    Wawasan masyarakat Bondowoso mengenai pentingnya kesehatan masih sangat kurang, melalui program pemberian penyuluhan tentang pelayanan kesehatan kepada masyarakat pada posyandu, puskesmas pembantu, puskesmas dan rumah sakit diharapkan derajat kesehatan masyarakat Bondowoso semakin meningkat. Pemerintah Daerah juga mengupayakan perluasan Askeskin dengan mengalokasikan dana untuk tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Kabupaten Bondowoso. Program ini juga berorientasi untuk memperbaiki gizi masyarakat, menekan angka kematian ibu dan bayi, tersosialisasinya Jaring Pengaman Kesehatan Masyarakat (JPKM). Untuk mewujudkan program ini perlu adanya ketersediaan dokter, bidan dan perawat serta tenaga medis yang memenuhi syarat dan tersedianya obat-obatan. Hal lain yang dapat mendukung program ini adalah penciptaan sistem jejaring informasi kesehatan sampai tingkat RT dengan mengoptimalkan kader-kader kesehatan
  5. Program peningkatan ketersediaan infrastruktur.
    Untuk mempercepat perkembangan perekonomian di kota sampai dengan pedesaan serta untuk menjangkau daerah-daerah yang masih terisolir maka perlu adanya pembangunan, peningkatan dan rehabilitasi infrastruktur seperti jalan (kabupaten, lokal/desa, lingkungan), jembatan, jaringan irigasi, jaringan air bersih dan sarana serta prasarana penunjang lainnya, dengan memperhitungkan juga kemungkinan tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru.
  6. Program peningkatan kemampuan kompetensi aparatur pemerintah.
    Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas aparatur pemerintah melalui peningkatan sumber daya manusia dengan pemberian motivasi berupa kompensasi positif serta penerapan penghargaan dan punishment secara bertahap, pemberian pendidikan dan pelatihan menuju aparatur pemerintah yang mantap dan profesional.
  7. Program peningkatan kesadaran hukum masyarakat dan perwujudan supremasi hukum.
    Program ini bertujuan untuk meningkatkan solidaritas dan ikatan sosial di kalangan masyarakat melalui pengembangan wawasan kebangsaan, pemeliharaan keamanan dan ketertiban lingkungan serta memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat.
  8. Program peningkatan kualitas lingkungan hidup masyarakat.
    Lingkungan yang sehat merupakan salah satu syarat untuk dapat menjalani kehidupan yang sehat. Hal ini dapat diwujudkan melalui tingginya kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, membangun MCK, sarana dan prasarana penyediaan air bersih, memisahkan sampah organik dengan non organik serta menggalakkan penghijauan yaitu penanaman hutan kembali.
  9. Program peningkatan kualitas dan pemberdayaan petani.
    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sebagian besar masyarakat Bondowoso bermatapencaharian sebagai petani dan buruh tani. Program ini bertujuan untuk :
    • meningkatkan kualitas para petani dan buruh tani dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani melalui pelatihan bagi HIPPA (Himpunan Pengelola Pemakai Air)
    • meningkatkan ketahanan pangan melalui pengolahan hasil pertanian dan pengembangan diversifikasi tanaman
    • meningkatkan pemasaran hasil produksi pertanian melalui promosi hasil produksi pertanian unggulan daerah
    • meningkatkan penerapan teknologi pertanian melalui pengadaan, pemeliharaan dan pengembangan sarana prasarana teknologi pertanian tepat meningkatkan produksi pertanian melalui upaya penyediaan sarana produksi dan pengembangan bibit unggul.
  10. Program pengarusutamaan gender.
    Perempuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam keluarga dan masyarakat. Aktualisasi diri positif memerlukan wadah dalam organisasi kewanitaan yang selama ini sudah ada dalam kehidupan masyarakat seperti Dasa Wisma, PKK, Dharma Wanita, Persit dan organisasi kewanitaan lainnya. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas, peran dan posisi perempuan serta sosialisasi kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak, serta perlindungan perempuan dan anak.
Mempertahankan Budaya Daerah dan Kearifan Lokal serta meningkatkan usaha di bidang kepariwisataan.
Memberikan ruang apresiasi bagi tumbuh dan berkembangnya seni budaya tradisional dan revitalisasi komunitas adat serta menjadikan seni dan tradisi sebagai kurikulum pembelajaran sekolah. Mengoptimalisasi penggalian potensi wisata sebagai salah satu produk unggulan Daerah.

Bupati Bondowoso

DAFTAR NAMA BUPATI YANG PERNAH MENJABAT DI KABUPATEN BONDOWOSO


1Ronggo Mas Ngabei Kerto Negoro( Raden Bagoes Assra )
( 1819 – 1830 )
2Ronggo II Mas Ngabei Kertokoesoemoe( Djoko Sridin, Putra Raden Bagoes Assra )
( 1830 – 1850 )
3RT. Abdoerachman Wirodipuro 
( 1850 – 1879 )
4RT. Wondokoesoemo 
( 1879 – 1891 )
5R.T. Ario Adipati Kertosubroto 
( 1891 – 1908 )
6RP. Sentot Sastroprawiro 
( 1908 – 1925 )
7RTA. Tirtohadisewojo
( 1925 – 1928 )
8RT. Prodjodiningrat 
( 1928 – 1934 )
9RT. Herman Hidajat 
( 1934 – 1938 )
10RT. Sjafioedin Admosoedirdjo 
( 1938 – 1945 )
11R. Soetandoko 
( 1945 – 1946 )
12RT. Saleh Soerjaningprodjo 
( 1946 – 1949 )
13RT. Badroes Sapari 
( 1949 – 1950 )
14R. Koesnoe Koesoemowidjojo 
( 1950 – 1951 )
15R. Soedarmo Soemodiprodjo 
( 1951 – 1956 )
16R. Soedjarwo
( 1956 – 1957 )
17M. Soetowo 
( 1957 – 1958 )
18M. Djoemadi Moespan 
( 1958 – 1959 )
19M. Soetowo 
( 1960 – 1964 )
20R. Soemarto Partomihardjo 
( 1964 – 1965 )
21R. Arifin Djauharman 
( 1965 – 1973 )
22R.Soerono 
( 1973 – 1978 )
23Mochamad Soewardhi 
( 1978 – 1983 )
24H. Mochamad Riva’I 
( 1983 – 1988 )
25H. Agus Sarosa 
( 1988 – 1993
26H. Agus Sarosa 
( 1993 – 1998 )
27Dr. H. Mashoed, MSi 
( 1998 – 2003 )
28Dr. H. Mashoed, MSi 
( 2003 – 2008 )
29Drs. H. Amin Said Husni
( 2008 – 2013 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar